Hal pertama yang saia baca darinya adalah kengkuhan untuk mengakui kenyataan. Ada beberapa hal yang disembunyikannya dari kami, dari mata semua orang yang melihatnya dengan cemas dan dengan kesedihan. Matanya tidak sedikitpun bisa berbohong,meskipun dari nada bicaranya sangat menyakinkan kami bahwa dia baik2 saja.Tetapi tidak dengan matanya,saia tahu ada kesedihan yang juga tidak bisa ia sampaikan secara sembarangan dan gamblang kepada orang yang baru ia kenal seperti kami.Raut muka penuh misteri menemani sepanjang perjalanan sejak awal sampai akhir. hanya harapan dan keajaiban yang bisa membuatnya membuka mulut untuk menecritakan derita dan suka yang dia alami. Terlalu angkuh atau memang karena terlalu tertutup pada orang baru seperti kami??Banyak pertanyaan yang hinggap di otak kami, banyak juga jawaban yang tidak saia temukan dari mulutnya.Teman-temannya pun memilih untuk tidak tahu dan tidak mau tahu dengan kondisinya.Diam dalam lamunan, tertawa dalam tangisan, dan tidur dalam pesakitan.Saia yakin itu!!!tak ada satu ceritapun keluar dari mulutnya kecuali kata “gag papa”.Seberapa jauh dan seberapa dalam pertanyaan yang saia utarakan tidak cukup menumbuhkan kesadaran dan iba darinya untuk membuka diri.Nampaknya, memang butuh kesabaran ekstra dan kekuatan yang cukup besar untuk membuatnya melihat dan menyadari keberadaan kami di s ana untuk membantunya dan menjadi temannya.
Entah karena terlalu asyik dalam kegiatan kami atau karena kami sudah cukup lelah berkutat dengan kebisuannya, kami tega meninggalkannya dalam malam yang menusuk,dalam kesepiannya, dan dalam pesakitannya.Tanpa kami sadari diamnya kini bukan hanya karena menahan sakit, bukan hanya karena kebingungannya mengungkapkan apa yang dirasakan karena saia yakin terlalu banyak cerita yang selama ini tidak ia buka untuk orang lain. Dia pingsan dalam duduknya, dan sekali lagi kami tidak menyadarinya. Henti nafas,Rabb!!!kepanikan menggelayuti hati ini.Harus dengan cara bagaimana saia menjadikan kondisinya lebih baik. Seolah semua ilmu yang pernah saia dapat hilang dibawa ketakutan dan kepanikan akan kehilangan dia. Terlalu awal memang untuk mengatakan semua ini, tetapi harus saia sadari saia justru menyayanginya setelah saia melihat bagaimana ia berjuang melawan semua ini. Rabb,, bantu ia melawan semua ini!!!
Tak tahu lagi dengan cara apa harus menyelamatkannya,teriak dan tangis yang sebetulnya haram dilakukan pada saat itu pun hanya menjadi sebuah norma saja. Tak sanggup saia melihatnya lebih sakit dari pada ini.Di tengah malam, di tengah hutan, di atas bukit!!Tuhan, rasanya sungguh tak bisa saia percayai semua ini. bayangkan, Rumah sakit terdekat jaraknya 10km, melewati jalan berbukit2 dan berkelok2.Hmm,,begitu gila ide yang panitia telorkan sehingga menemukan tempat itu.
♥
Setelah perjalanan panjang penuh kekalutan bagi saia terutama, akhirnya kami menemukan puskesmas terdekat,meskipun kami harus menjumpai penolakan karena dokter tak sanggup menanganinya. Beralih ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih jauh jaraknya tentunya. Tak henti2nya doa mengalun untuk kesembuhannya.Dzikir sekuat yang saia mampu dan saia bisa.Menunggu detik2 berat dalam perjalanan perkenalan awal kami. Air mata tak mampu tertahan lagi,menunggunya membuka mata atau paling tidak mengembalikan pola nafasnya.
Penantian berakhir,dia tersadar dari tidurnya sementara.Senang bukan kepalang menyambut kehadirannya kembali diantara kami.Terimakasih Rabb…Kau masih memberinya pinjaman usia.Dan baru kami tahu setelahnya ternyata tak hanya berhenti sampai di situ cerita yang tak ia sampaikan.Begitu kuat dia menahan semua beban ini sendirian.Rabb,,izinkan saia menolongnya karenaMu. Saia begitu tak sanggup melihatnya bersedih dan meringis menahan sakit.Biarkan persaudaraan kami berawal dari cerita ini dan terus berjalan atas izinMu.amiin.